Skip to main content

Bermain Karet Bersama anak-Anak

 



Kegiatan bermain karet gelang, yang diadakan oleh Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA), FLP dan HCE disambut baik dan antusias oleh anak-anak serta orangtua. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 14 Juni 2026, pukul 07.00-09.30 WIB, di Lapangan Engku Putri, Batam Center.

Mengawali kegiatan ini, para peserta diberikan kesempatan untuk mengeksplore bahan bacaan yang sudah disediakan di lapak baca. Ada anak-anak yang membaca secara mandiri, namun ada juga yang dibantu untuk dibacakan. Setelah itu, kegiatanpun dibuka oleh Mba Dewi Pratiwi, selaku ketua FLP Batam, diawali dengan membaca surah Al-fatihah bersama-sama dan dilanjutkan dengan tasmi' Q.S. An-Naba' oleh salah satu peserta.

Kegiatan yang mengusung tema tentang permainan edukatif ini, memberikan wadah bagi anak-anak untuk melatih motorik, baik dengan permainan mencatik karet dan lompat karet yang dipraktikkan satu persatu oleh setiap peserta.

Selain itu, anak-anak juga menambah wawasan dengan mendengarkan membaca nyaring yang dipraktikkan oleh mba Rita Fatimah, selaku Relawan Literasi Masyarakat. Sebagai ruang untuk bertumbuh bagi anak-anak, dalam permainan selalu ada pesan-pesan kebaikan yang akan menguatkan tauhid dan karakter anak. Selaku ketua HCE, Mba Adel menguatkan pondasi iman anak-anak dengan mengenalkan dan memberikan pemahaman bahwa Allah lah sang maha pencipta, pohon-pohon yang ada disekiling adalah milik Allah dan ciptaan Allah.

Tawa ceria anak-anak semakin bertambah, saat mereka menikmati permainan lompat karet dengan menyebutkan nama dan warna kesuakaan masing-masing. Orangtuapun turut berpartisipasi dalam memegangi karet yang akan dilompati anak-anak, tentu ini semakin menambah semangat anak.

Tidak hanya permainan, kegiatan sempat dijeda untuk beristirahat 15 menit, menikmati makanan dan minuman ringan yang sudah disiapkan.

Selepas kegiatan, ada sesi foto bersama sebagai ruang kebersamaan untuk mengabadikan momen berharga, dan ditutup dengan diskusi bersama orangtua tentang pendidikan Nabawiyah.


Orantua berharap agar kegiatan ini terus berlanjut untuk memberikan edukasi-edukasi tentang pendidikan anak.

Comments

Popular posts from this blog

FLP Batam dan Kepri Gelar Lapak Baca, Mendongeng dan Pelatihan Jurnalistik di Pelataran Mesjid Raja Hamidah

  Batam – Forum Lingkar Pena Cabang Batam dan Kepri sukses menyelenggarakan kegiatan Lapak Baca yang diiringi dengan kegiatan mendongeng dan pelatihan jurnalistik pada hari Minggu, 22 Februari 2026, pukul 16.15 di pelataran Mesjid Raja Hamidah, Batam Center. Kegiatan ini dilakukan bertepatan dengan Milad ke-29 FLP. Kegiatan ini mendapat perhatian baik dari masyarakat yang berkunjung dan pengurus Mesjid Raja Hamidah yang mensupport kegitan ini. Diawali dengan lapak baca, lebih dari 30 pengunjung yang silih berganti mendatangi lapak baca dan memilih duduk santai sambil meramu tiap aksara yang ada pada lembar buku yang dibaca. Lapak baca merupakan kegiatan rutin yang sudah dicanangkan FLP Batam, sebagai wadah untuk memfasilitasi minat baca masyarakat, menumbuhkan serta menguatkan literasi masyarakat melalui cinta buku. Sebagai upaya serius dalam membersmai masyarakat bertumbuh, kegiatan mendongeng juga menjadi perhatian besar untuk menyentuh kalangan anak-anak yang masih membutuhkan...

SUSUNAN PENGURUS FORUM LINGKAR PENA CABANG BATAM TAHUN 2026-2028

Ketua               : Dewi Pratiwi Sekretaris 1      : Nurul Izzatul Islam Suryajaya Sekretaris 2      : Syella Zahra Bendahara        : Juwartia Ningsih   Divisi Kaderisasi Ketua               : Yulianto Wakil Ketua     : Jamalianda Sahputra Anggota          : 1. Fakhri Fathurrahman Zain                           2. Rio Sayuti   Divisi Humas dan Media Ketua               : Tsabit Abdurrahman Yahya Ayyasy Sind Wakil ketua      : Faadhilah Fauzah Hanun Anggota       ...

Atuk & Wasiat Ulemu Basi

  Atuk & Wasiat Ulemu Basi Karya: Rio Sayuti Divisi Kaderisasi FLP Cabang Batam Angin malam berhembus perlahan, menyelusup di antara celah-celah dinding papan, menggoyangkan tirai lusuh yang telah lama dimakan usia. Malam itu Nagari Paru, seolah berselendang kabut dan dingin. Di sudut ruangan yang temaram, lentera minyak tanah bergoyang ditiup angin malam, cahayanya melambai-lambai di atas meja kayu yang ada di depan jendela tua. Di sanalah Atuk duduk, seperti malam-malam sebelumnya, membetulkan jam-jam tua yang rusak. Jarum-jarum waktu ia benahi dengan cermat, seolah sedang memperbaiki kenangan yang terserak. Kadang, di sela pekerjaannya, ia tenggelam dalam lembaran buku yang setia menemaninya, kitab-kitab lama, hikayat, atau tafsir yang ia pelajari dengan tekun, seakan mengejar sesuatu yang dulu luput dari genggamannya. Atuk begitu aku memanggilnya lelaki yang kala itu telah lebih tujuh puluh tahun usianya. Tubuhnya mulai renta, rambutnya memutih seperti kapas, t...