Atuk & Wasiat Ulemu Basi
Karya: Rio Sayuti
Divisi Kaderisasi FLP Cabang Batam
Angin malam berhembus perlahan, menyelusup di antara celah-celah dinding papan, menggoyangkan tirai lusuh yang telah lama dimakan usia. Malam itu Nagari Paru, seolah berselendang kabut dan dingin. Di sudut ruangan yang temaram, lentera minyak tanah bergoyang ditiup angin malam, cahayanya melambai-lambai di atas meja kayu yang ada di depan jendela tua. Di sanalah Atuk duduk, seperti malam-malam sebelumnya, membetulkan jam-jam tua yang rusak. Jarum-jarum waktu ia benahi dengan cermat, seolah sedang memperbaiki kenangan yang terserak. Kadang, di sela pekerjaannya, ia tenggelam dalam lembaran buku yang setia menemaninya, kitab-kitab lama, hikayat, atau tafsir yang ia pelajari dengan tekun, seakan mengejar sesuatu yang dulu luput dari genggamannya.
Atuk begitu aku memanggilnya lelaki yang kala itu telah lebih tujuh puluh tahun usianya. Tubuhnya mulai renta, rambutnya memutih seperti kapas, tapi matanya tetap menyimpan cahaya, seperti lentera yang tak padam dihempas masa. Kala itu, hampir setiap sepekan sekali, Ayah membawaku mengunjunginya . Sekadar bercengkrama, mendengar kisah-kisah lama, atau sekedar menyeruput kopi bersamanya. Meski Atuk bukan ulama, bukan pula penghulu adat yang petuahnya didengar dalam balai-balai perundingan. Namun, pengalaman hidup telah mengajarinya lebih dari sekadar kata-kata. Bagi kami, cucu-cucunya, ia adalah tempat bertanya, tempat menimba ilmu yang tak tertulis di kitab mana pun.
Dalam usianya yang senja, Atuk tak henti-hentinya belajar. Baginya, ilmu adalah cahaya, dan selama nyawa masih dikandung badan, selama itulah seorang insan harus mencari terang dalam gelapnya kehidupan. Kadang, kudengar ia menyesali masa mudanya yang terlewat tanpa cukup mendalami ilmu agama. Tapi bagi Atuk, penyesalan bukanlah untuk diratapi, melainkan untuk diperbaiki. Tak ada kata terlambat untuk belajar, bukankah nabi kita pernah mengatakan "Utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi, kalau kewajiban menuntut ilmu itu dari buaian hingga ke liang lahat." ujarnya seakan sedang menasehati dirinya sendiri
Dari kejauhan, gemuruh terdengar menyeruak, malam itu hujan turun rintik-rintik. mengguncang atap seng rumah tua itu. Listrik padam, Lentera minyak menjadi satu-satunya cahaya. Aku duduk berhadapan dengan Atuk, menghirup aroma kopi hitam yang baru saja disedu oleh Ayah.
"Tuk," panggilku perlahan.
Ia mengangkat wajahnya, menatapku dengan pandangan penuh selidik.
"Kelak, setelah tamat sekolah, mungikin aku akan merantau. Entah
jauh, entah dekat, menyeberangi laut, atau menapaki tanah yang asing
bagiku.
Kata petuah, orang Minang yang hendak pergi merantau harus membawa dua
ilmu, silek dan ilmu kebatinan. Ajarkan aku Tuk, agar tak canggung kelak badan
di Negeri orang."
Atuk tertawa. Tawanya pecah, menular pula kepada Ayah yang duduk di
sampingku. Aku bingung, merasa ada yang keliru dalam ucapanku. Setelah tawanya
reda, Atuk menatapku dengan sorot mata penuh makna.
"Kalau ilmu silek yang Wa'ang maksud, tentulah silek rancak
dipelajari sebagai melestarikan seni dan budaya, tapi ada bekal yang lebih
penting dari itu."
"Zaman telah berubah, bertarung bukan hanya soal mengayun kaki dan
tangan, memukul dan menendang, tapi soal strategi dan siasat ataupun politik
yang lebih dapat mengangkat dan menjatuhkan lebih parah."
"Orang sekarang bertarung di meja sidang, beradu dengan pasal dan
hukum, beradu ide dan pemikiran. Musuh memang pantang dicari, tapi jika
bertemu, juga tak boleh dihindari."
Aku mengangguk, dan menyimak dengan teliti.
"Adapun ilmu kebatinan yang Wa'ang tanyokan, untuk apo? Jika hanya
untuk mengejar ilmu "cupak-cupakbaruak", ilmu setan dan ibilih,
mantra-mantra pitunduk, pamanih dan pakasih, tak akan ado manfaatnyo, tak akan
menyelamatkan badan"
Aku sejenak terdiam, kemudian bertanya lagi dengan penasaran "Lalu, ilmu apa yang harus ku pelajari, Tuk?". "Ulemu Basi," jawabnya mantap, sembari sedikit tersenyum tipis. Aku mengernyitkan dahi. "Ulemu Basi, Tuk? Apa gunanya ilmu kebal besi? bukan kah itu bagian dari kesyirikan juga? dan lagi pula jika lawan memakai kayu atau batu, bukankah tetap kita bisa dikalahkan?"
Atuk tertawa lagi, lebih pelan kali ini melihat pertanyaan polos ku itu.
Ia menatap Ayah, yang sedang menyeruput kopinya dengan tenang. Kemudian, ia
menarik napas panjang, menatapku dengan sorot mata penuh makna.
"Bukan ilmu kebal besi yang Atuk maksud, tapi Basi Luruih,"
ujarnya lirih.
Aku semakin bingung.
Atuk menghela napas, lalu melanjutkan tuturnya, "Nan bak pituah urang tuo-tuo, ‘Pandailah maambiak sifat ka nan sudah, ambiak tuah ka nan manang.’ Belajarlah dari perjalanan orang-orang sebelum kita. Apa yang membawa mudarat, jauhilah. Apa yang menjadi sebab kemenangan, teladanilah, sebab alam takambang pun bisa juo manjadi guru".
"Sebab di rantau orang, Wa'ang bukan hanya membawa badan wa'ang
sendiri, tapi juga membawa nama keluarga, dan membawa nama kampung jo halaman
tampek wa'ang berasal"
Aku terdiam, petuah itu terasa begitu dalam, meski sederhana.
Tahun demi tahun berlalu, musim silih berganti, dan masa membawaku ke berbagai penjuru. Namun, di setiap persimpangan hidup, di antara gelombang dan riak kehidupan, petuah Atuk tetap terpatri dalam benakku. Hingga ilmu Basi Luruih yang diajarkannya bukan hanya sekedar untuk pergi merantau, tapi pegangan sepanjang hayat.
Sepuluh tahun sudah kepergian Atuk beserta ayah menghadap sang khaliq saut bersautlah masa berkabung kala itu, 7 hari kepergian Atuk, Ayah menyusul pula, besarlah harapan keduanya beroleh bahagia disisi sang pencipta.
Allahumaghfirlahum warhamhum.
Akhirul kalam, kepada Allah jua segala kebenaran disandarkan.
Comments
Post a Comment