Skip to main content

FLP Batam dan Kepri Gelar Lapak Baca, Mendongeng dan Pelatihan Jurnalistik di Pelataran Mesjid Raja Hamidah

 

Batam – Forum Lingkar Pena Cabang Batam dan Kepri sukses menyelenggarakan kegiatan Lapak Baca yang diiringi dengan kegiatan mendongeng dan pelatihan jurnalistik pada hari Minggu, 22 Februari 2026, pukul 16.15 di pelataran Mesjid Raja Hamidah, Batam Center. Kegiatan ini dilakukan bertepatan dengan Milad ke-29 FLP.

Kegiatan ini mendapat perhatian baik dari masyarakat yang berkunjung dan pengurus Mesjid Raja Hamidah yang mensupport kegitan ini. Diawali dengan lapak baca, lebih dari 30 pengunjung yang silih berganti mendatangi lapak baca dan memilih duduk santai sambil meramu tiap aksara yang ada pada lembar buku yang dibaca.

Lapak baca merupakan kegiatan rutin yang sudah dicanangkan FLP Batam, sebagai wadah untuk memfasilitasi minat baca masyarakat, menumbuhkan serta menguatkan literasi masyarakat melalui cinta buku.

Sebagai upaya serius dalam membersmai masyarakat bertumbuh, kegiatan mendongeng juga menjadi perhatian besar untuk menyentuh kalangan anak-anak yang masih membutuhkan menanamkan pemahaman dan karakter melalui berkisah. Kegiatan mendongeng yang diisi oleh kak Opi ternyata juga memberikan ruang bagi-anak-anak untuk bisa berekspresi secara bebas. Anak-anak mengikuti dongeng dengan bahagia. Hal ini ditandai dengan ekspresi wajah yang mereka tampakkan. Pada dongeng kali ini, kak Opi membawakan tema tentang berpuasa, hal ini juga menjadi penguat anak-anak untuk melaksanakan ibdah puasa di bulan Ramadan.


Tidak hanya mendongeng, kegiatan jurnalistik yang dibimbing oleh kak Dewi, juga menambah antusias anak-anak muda. Desi salah satu murid SMA Negeri 23, Batu Aji menyampaikan ucapan terima kasih dan merasa seru serta bahagia bisa mengikuti kegiatan ini, karena ini baru pertama kali datang ke tempat ini. Kegiatan jurnalistik ini diawali oleh pemaparan materi dan membahas beberapa isu yang ada di Indonesia. Setelah ini, para peserta yang terdiri dari 7 orang diberikan challenges untuk menjadi wartawan, dengan waktu 20 menit yang diberikan. Merekapun antusias untuk menggagas konsep dan memberanikan diri mendatangi sekelompok anak muda yang sedang berkumpul mempelajari Bahasa Jepang. Kegiatan jurnalistik ini memberikan penguatan kepada anak muda untuk lebih kritis dalam menyampaikan gagasan, menganalisa setiap informasi yang didapatkan dan menyajikannya dengan tepat dan beretika.


Kegiatan ini berlangsung selama 1 jam 40 menit, setelah itu, lapak baca, kegiatan mendongeng dan jurnalistik ditutup dengan foto bersama dan saling bersalaman. Khusus pengurus Fprum lingkar Pena Cabang Batam, setelah kegiatan selesai, dilanjutkan mengikuti buka Bersama di pelataran Mesjid, yang merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan pengurus Mesjid Raja Hamidah, Batam Center.





Kegiatan ini bukan hanya sekedar ajang berkumpul semata. Melainkan dari ruang-ruang kecil bernama lapak baca, mendongeng dan jurnalistik inilah kami merawat gagasan, meluaskan wawasan dan mempertajam pena agar terus mampu bergerak menyalakan cahaya literasi.

Batam, 22 Februari 2026

Forum Lingkar Pena Cabang Batam

Berbakti, Berkarya, Berarti

 

 


Comments

Popular posts from this blog

SUSUNAN PENGURUS FORUM LINGKAR PENA CABANG BATAM TAHUN 2026-2028

Ketua               : Dewi Pratiwi Sekretaris 1      : Nurul Izzatul Islam Suryajaya Sekretaris 2      : Syella Zahra Bendahara        : Juwartia Ningsih   Divisi Kaderisasi Ketua               : Yulianto Wakil Ketua     : Jamalianda Sahputra Anggota          : 1. Fakhri Fathurrahman Zain                           2. Rio Sayuti   Divisi Humas dan Media Ketua               : Tsabit Abdurrahman Yahya Ayyasy Sind Wakil ketua      : Faadhilah Fauzah Hanun Anggota       ...

Atuk & Wasiat Ulemu Basi

  Atuk & Wasiat Ulemu Basi Karya: Rio Sayuti Divisi Kaderisasi FLP Cabang Batam Angin malam berhembus perlahan, menyelusup di antara celah-celah dinding papan, menggoyangkan tirai lusuh yang telah lama dimakan usia. Malam itu Nagari Paru, seolah berselendang kabut dan dingin. Di sudut ruangan yang temaram, lentera minyak tanah bergoyang ditiup angin malam, cahayanya melambai-lambai di atas meja kayu yang ada di depan jendela tua. Di sanalah Atuk duduk, seperti malam-malam sebelumnya, membetulkan jam-jam tua yang rusak. Jarum-jarum waktu ia benahi dengan cermat, seolah sedang memperbaiki kenangan yang terserak. Kadang, di sela pekerjaannya, ia tenggelam dalam lembaran buku yang setia menemaninya, kitab-kitab lama, hikayat, atau tafsir yang ia pelajari dengan tekun, seakan mengejar sesuatu yang dulu luput dari genggamannya. Atuk begitu aku memanggilnya lelaki yang kala itu telah lebih tujuh puluh tahun usianya. Tubuhnya mulai renta, rambutnya memutih seperti kapas, t...